MKWN4101 - Modul 5
Ringkasan materi Agama sebagai Sumber Moral dan Akhlak Mulia dalam Kehidupan untuk persiapan UAS MKWN4101
Pengertian Agama
Secara etimologis, kata agama berasal dari bahasa Sanskerta, a (tidak) dan gama (kacau), sehingga berarti tidak kacau. Ada juga yang mengartikan a (cara) dan gama (jalan), yang berarti cara berjalan menempuh rida Tuhan.
Dalam bahasa Inggris, religion berasal dari bahasa Latin relegere (mengumpulkan, membaca), mengandung pengertian kumpulan cara-cara peribadatan dalam kitab suci yang harus dibaca.
Dalam bahasa Arab, din memiliki arti balasan atau pahala, ketentuan, kekuasaan, pengaturan, perhitungan, taat dan patuh, serta kebiasaan. Agama membawa peraturan dan hukum yang harus dipatuhi.
Secara terminologis, Agama adalah sistem kepercayaan, penyembahan, dan kehidupan manusia yang berasal dari Tuhan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Agama menurut Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy: Dustur (undang-undang) ilahi yang didatangkan Allah buat menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia di alam dunia, untuk mencapai kerajaan dunia dan kesentosaan di akhirat.
Agama menurut Endang Saefudin Anshari: Meliputi sistem kredo kepercayaan terhadap sesuatu yang mutlak di luar manusia; sistem ritus tata cara peribadatan; dan sistem norma atau tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama dan alam sesuai keimanan dan peribadatan tersebut.
Klasifikasi Agama
Ahmad Abdullah al-Masdoosi mengklasifikasikan agama ke dalam tiga kategori:
- Wahyu dan Nonwahyu:
- Agama wahyu: Menghendaki iman kepada Tuhan, rasul, dan kitab suci, serta pesannya disebarkan ke umat manusia. Berpokok pada keesaan Tuhan, beriman kepada Nabi, sumber utama ketentuan baik dan buruk adalah kitab suci. Lahir di Timur Tengah dan bersifat misionaris. Contoh: Yahudi, Kristen, Islam.
- Agama nonwahyu: Tidak memandang esensial penyerahan manusia kepada tata aturan ilahi. Sumber utama ketentuan baik dan buruk bukan kitab suci. Lahir di luar area Timur Tengah, tidak bersifat misionaris, ajarannya cenderung kabur dan elastis. Contoh: Hindu, Buddha, Konfusianisme.
- Misionaris dan Nonmisionaris:
- Agama misionaris: Ajarannya mengharuskan penganutnya menyebarkan kepada seluruh manusia. Contoh: Islam, Kristen, Buddha (dalam perkembangannya).
- Agama non-misionaris: Tidak memuat tuntutan penyebaran.
- Rasial dan Universal:
- Semitik: Yahudi, Kristen, Islam.
- Arya: Hindu, Jainisme, Sikhisme, Zoroastrianisme.
- Mongolia: Konfusianisme, Taoisme, Shintoisme.
Moral, Susila, Budi Pekerti, Akhlak, dan Etika
Pengertian Masing-Masing
- Moral: Berasal dari Latin
mores(adat kebiasaan). Ajaran tentang tindakan seseorang (sifat, perangai, kehendak, pendapat, perbuatan) yang dapat dikatakan benar atau salah, baik atau buruk.- Kesadaran moral: Pengetahuan akan baik dan buruk, kemampuan memilih perbuatan tanpa paksaan.
- Susila: Berasal dari Sanskerta
su(baik/bagus) dansila(dasar/prinsip/norma). Aturan-aturan hidup yang baik, bersumber dari adat masyarakat setempat. - Budi Pekerti: Kata majemuk dari
budi(kesadaran yang didorong akal) danpekerti(yang terlihat karena perasaan). Perpaduan hasil akal dan rasa yang berwujud karsa dan tingkah laku. - Akhlak: Berasal dari Arab
khuluq(tabiat, perangai, kebiasaan, karakter). Keadaan jiwa yang tertanam dan mendorong perbuatan secara spontan tanpa pemikiran.- Penting: Akhlak berpangkal pada hati/jiwa/kehendak dan merupakan perwujudan perbuatan sebagai kebiasaan.
- Etika: Berasal dari Yunani
ethos(watak kesusilaan atau adat). Ilmu yang membahas tingkah laku manusia dari segi nilai baik dan buruk sejauh yang ditentukan akal.- Sumber: Akal pikiran atau filsafat.
- Fungsi: Sebagai penilai, penentu, dan penetap perbuatan manusia.
- Sifat: Relatif, karena bersumber dari akal yang tidak sama dan dipengaruhi situasi/kondisi.
Hubungan Antara Mereka
- Fungsi: Semuanya berfungsi sebagai pengarah atau petunjuk agar manusia mengetahui perbuatan baik dan buruk.
- Sumber:
- Etika: Bersumber pada rasio.
- Akhlak: Bersumber pada Al-Qur’an dan hadis (rasio sebagai pendukung).
- Moral dan Susila/Budi Pekerti: Umumnya berdasarkan ketentuan atau kebiasaan masyarakat.
- Sifat:
- Etika (Ilmu Akhlak): Teoretis, menyelidiki mengapa suatu perbuatan baik atau buruk.
- Moral, Susila, Akhlak: Lebih praktis, berbicara soal mana yang baik/buruk, tabu/tidak tabu.
- Kekekalan:
- Akhlak Islam: Bersifat tetap, mutlak, permanen, eternal, dan universal karena bersumber dari wahyu.
- Etika dan Moral: Relatif dan bisa berubah seiring perubahan waktu dan tempat karena bersumber dari akal manusia.
Agama sebagai Sumber Moral
Agama memiliki peranan fundamental sebagai sumber moral, terutama di tengah krisis moral yang dialami masyarakat modern.
- Pedoman Hidup: Agama memberikan petunjuk dan prinsip-prinsip moral melalui kitab suci dan para rasul.
- Sanksi Akhir: Agama memberikan sanksi bagi setiap tindakan moral, yang membantu mempertahankan cita-cita etis.
- Pengendali: Agama berfungsi sebagai "tali kekang" terhadap pikiran liar, hawa nafsu, serta ucapan dan perilaku keji.
- Pembentukan Karakter: Agama mendidik manusia menjadi tenteram, damai, tabah, ulet, berani menegakkan kebenaran, serta menumbuhkan sifat mulia.
- Sumber Utama (Islam): Al-Qur’an dan Sunah adalah sumber utama etika dan moral, yang tidak terbatas pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
- Sifat Absolut: Moral yang bersumber dari agama bersifat mutlak, permanen, eternal, dan universal, tidak tunduk pada ruang dan waktu, serta berlaku untuk semua tanpa memandang latar belakang. Ini berbeda dengan akal manusia yang terbatas dan relatif, sehingga moral yang dihasilkannya tidak memiliki daya tekan yang kuat.
- Peran Akal dan Budaya: Islam sangat menghormati penggunaan akal dalam menjabarkan ajarannya dan menghargai budaya setempat, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Ayat Al-Qur'an dan hadis memberikan ruang bagi interpretasi rasional dan penyesuaian budaya untuk hal-hal yang tidak secara rinci disebutkan, dengan kaidah "Adat itu bisa menjadi sumber hukum" (
العَادَةُ مُحْكَمَةٌ).
Akhlak Mulia dalam Kehidupan
Akhlak mulia (mahmudah) adalah kriteria perbuatan manusia yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan akhlak tercela (madzmumah) adalah yang tidak sesuai. Akhlak batin yang mulia akan melahirkan akhlak lahir yang mulia pula.
Sendi-sendi Akhlak (Imam Al-Ghazali)
Imam Al-Ghazali mengemukakan empat sendi akhlak batin:
Sendi Akhlak Batin yang Baik:
- Kekuatan Ilmu (Hikmah): Kebijaksanaan, kemampuan menentukan yang benar dan salah.
- Kekuatan Amarah (Berani): Kekuatan amarah yang tunduk kepada akal.
- Kekuatan Nafsu Syahwat (Iffah): Syahwat yang terdidik oleh akal.
- Keseimbangan (Adil): Kekuatan jiwa yang menuntun amarah dan keinginan sesuai hikmah.
- Perbuatan dari sendi ini: Jujur, suka memberi, tawadu, tabah, tinggi cita-cita, pemaaf, kasih sayang, menghormati, qana’ah, sabar, malu, pemurah, berani membela kebenaran, menjaga diri dari haram.
Sendi Akhlak Batin yang Tercela:
- Keji, Pintar Busuk, Bodoh: Tidak bisa menentukan yang benar dari yang salah.
- Berani tapi Sembrono, Penakut, Lemah: Kekuatan amarah yang tidak terkekang.
- Rakus dan Statis: Syahwat yang tidak terdidik oleh akal dan syariat.
- Aniaya: Kekuatan syahwat dan amarah yang tidak terbimbing hikmah.
- Perbuatan dari sendi ini: Sombong, riya, mencaci maki, khianat, dusta, dengki, keji, serakah, ujub, pemarah, malas, membukakan aib, kikir.
Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
-
Akhlak kepada Allah SWT:
- Menauhidkan: Mengesakan Allah sebagai pencipta dan yang wajib disembah (QS Al-Ikhlas/112:1-4).
- Beribadah: Hanya menyembah Allah (QS Adz-Dzaariyaat/51:56, QS Al-Baqarah/2:21).
- Bersyukur: Berterima kasih atas karunia dan nikmat (QS Ibrahim/14:7, QS Al-Baqarah/2:152).
- Takwa: Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan (QS An-Nisa/4:1).
- Berdoa: Memohon kebaikan kepada Allah (QS Al-Baqarah/2:186).
- Berdzikir: Mengingat Allah (QS Azd-Dzaariyaat/51:55, QS Al-Baqarah/2:152).
- Tawakal: Pasrah kepada Allah sambil berusaha (QS Ali Imran: 159).
- Mahabbah (Cinta): Merasa dekat dan taat kepada Allah (QS Al-Maa’idah/5:54).
-
Akhlak kepada Diri Sendiri:
- Kreatif dan Dinamis: Sikap ingin menciptakan sesuatu dan selalu maju (QS Al-Ankabut/29:20, QS Ar-Ruum/30:9).
- Sabar: Lapang dada menghadapi musibah, hawa nafsu, dan menjalankan perintah, serta dalam kebahagiaan (QS Al-Baqarah/2:155-156).
- Tawadu' (Rendah Hati): Tidak sombong, tidak curang (QS Al-Furqaan/25:63).
- Benar: Berkata dan bertindak jujur (QS At-Taubah/9:119, QS Al-’Ashr/103:3).
- Iffah: Menjaga diri dari perbuatan dilarang Allah, termasuk meminta-minta (QS An-Nisaa'/4:6, QS Al-Baqarah/2:273).
- Amanah/Jujur: Menjalankan kepercayaan (QS An-Nisaa'/4:58).
-
Akhlak kepada Ibu, Bapak, dan Keluarga:
- Berbakti kepada Orang Tua: Berbuat baik dan menghormati (QS An-Nisaa'/4:36, QS Luqman/31:14).
- Mendoakan Orang Tua: Memohon rahmat untuk mereka (QS Al-Israa'/17:23-24).
- Adil terhadap Saudara: Berlaku adil (QS An-Nahl/16:90).
- Membina dan Mendidik Keluarga: Menjaga dari api neraka (QS At-Tahrim:6).
- Memelihara Keturunan: Menghargai dan menjaga anak (QS An-Nahl/16:58-59).
-
Akhlak kepada Orang Lain/Masyarakat:
- Membangun Ukhuwah (Persaudaraan): Menjalin persatuan antar mukmin (QS Al-Hujuraat/49:10).
- Melakukan Silaturahmi: Menjaga hubungan kekerabatan (QS Ali-Imran/3:103).
- Ta’awun (Tolong Menolong): Saling menolong dalam kebaikan (QS Al-Maai’dah/5:2).
- Bersikap Adil: Berlaku adil dalam menghukumi (QS An-Nisaa’/4:58).
- Bersikap Pemaaf dan Penyayang: Memaafkan dan merelakan (QS An-Nuur/24:22, QS Ali-Imran/3:159).
- Bersikap Dermawan: Tidak kikir dan tidak boros (QS Al-Israa'/17:29).
- Menahan Marah dan Berkata Lemah Lembut: Berkata yang baik (QS Al-Ahzab/33:70).
- Sikap Musawah (Persamaan): Menjunjung persamaan dalam hidup bermasyarakat dan hukum (QS Al-Hujuraat/49:13, QS Al-Israa’/17:70, QS Ali-Imran/3:195, QS Al-Maai’dah/5:8).
- Tasamuh (Toleransi): Menghormati keyakinan yang berbeda tanpa paksaan (QS Al-Baqarah/2:256, QS Yunus/10:99, QS Al-An’aam/6:108, QS Al-Ankabut/29:46, QS Al-Kaafiruun/109:1-6).
- Bermusyawarah: Mencapai kesepakatan bersama (QS Ali-Imran/3:159, QS Asy-Syuura/42:38).
- Menjalin Perdamaian: Mewujudkan rahmat bagi alam (QS Ali-Imran/3:112, QS Al-Anbiyā/21:107).
-
Akhlak kepada Alam:
- Memperhatikan dan Merenungkan Penciptaan Alam: Mengambil pelajaran dari ciptaan Allah (QS Ali-Imran/3:190).
- Memanfaatkan Alam: Menggunakan alam untuk kebaikan sesuai perintah Allah (QS Yunus/10:101).
Poin Penting
- Agama secara etimologis berarti "tidak kacau" atau "jalan menempuh rida Tuhan", dan secara terminologis adalah pedoman hidup dari Tuhan untuk kebahagiaan dunia akhirat.
- Klasifikasi agama mencakup wahyu/nonwahyu, misionaris/nonmisionaris, dan rasial/universal.
- Moral, susila, budi pekerti, akhlak, dan etika adalah konsep terkait perilaku baik dan buruk, dengan perbedaan pada sumber dan sifatnya.
- Etika bersumber pada akal, bersifat relatif, dan teoretis.
- Akhlak Islam bersumber pada wahyu (Al-Qur'an dan Sunah), bersifat mutlak, permanen, dan praktis.
- Agama adalah sumber moral yang absolut dan universal, memberikan pedoman yang kuat di tengah krisis moral modern.
- Akhlak mulia (mahmudah) sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul, sedangkan akhlak tercela (madzmumah) tidak.
- Menurut Imam Al-Ghazali, ada empat sendi akhlak batin: kekuatan ilmu (hikmah), kekuatan amarah (berani), kekuatan nafsu syahwat (iffah), dan keseimbangan (adil).
- Akhlak mulia meliputi hubungan dengan Allah (tauhid, syukur, takwa), diri sendiri (kreatif, sabar, jujur), orang tua/keluarga (berbakti, mendoakan), sesama (ukhuwah, ta’awun, tasamuh), dan alam (merenungkan, memanfaatkan).
Tes Formatif 1 — Kegiatan Belajar 1
1.Agama secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu ...
2.Agama secara terminologi meliputi, kecuali sistem ...
3.Secara garis besar agama diklasifikasikan ke dalam ...
4.Yang tidak termasuk klasifikasi agama adalah agama ...
5.Yang tidak termasuk agama wahyu adalah ...
6.Ilmu yang mempelajari baik dan buruk disebut etika. Karena itu etika bisa dikatakan sebagai ...
7."Sumber kebaikan dan keburukan adalah kebahagiaan." Pernyataan tersebut dikemukakan oleh ...
8.Kebaikan dan keburukan diukur oleh kebahagiaan, tetapi kebahagiaan menurut kebanyakan orang yang merasakannya. Aliran ini disebut hedonisme universal. Salah seorang penggagasnya adalah ...
9.Sumber utama moral dalam Islam adalah ...
10.Agama masih memiliki peranan yang besar bagi kehidupan manusia modern untuk menghindari krisis moral. Hal tersebut karena ajaran-ajaran agama bersifat ...
Tes Formatif 2 — Kegiatan Belajar 2
1.Akhlak yang sesuai dengan ketentuan Al-Qur'an menurut al-Ghazali ada empat sendi akhlak...
2.Sendi akhlak mulia yang bersifat batin menurut al-Ghazali ada empat, salah satunya adalah ...
3.Dalam perwujudannya, akhlak terhadap Allah meliputi, kecuali ...
4.Akhlak terhadap diri sendiri antara lain adalah sabar. Sabar berarti ...
5.Yang tidak termasuk sikap tasamuh adalah ...
6.Ayat di atas berkenaan dengan akhlak terhadap orang lain, yaitu QS Al-Hujuraat/49:10: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara keduanya dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." Ayat ini berkenaan dengan akhlak terhadap orang lain, yaitu...
7.Manusia tidak mungkin hidup sendiri. Karena manusia secara fitrah adalah makhluk ...
8.Manusia harus berbuat baik kepada orang tua. Hal tersebut dalam Al-Qur'an terdapat dalam surah ...
9.Salah satu akhlak terhadap orang lain adalah ta'awun. Ta'awun adalah saling ...
10.Ayat di atas ini (QS Ali-Imran/ 3: 190) yaitu: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." berkaitan dengan akhlak terhadap ...