MKWN4101 - Modul 1
Ringkasan materi Berketuhanan Yang Maha Esa untuk persiapan UAS MKWN4101
Filsafat Ketuhanan
Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia yang berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom), atau dalam bahasa Arab falsafah. Pengertian falsafah adalah memahami sesuatu yang tidak diketahui dari hal yang sudah diketahui (Istinbāṭul majhūl min al-maʿlūm). Pemikiran manusia akan Tuhan berkembang seiring perubahan daya nalar.
A. Pemikiran Manusia tentang Tuhan
Pemikiran manusia tentang Tuhan dan ketuhanan berevolusi:
-
Animisme/Dinamisme, Politeisme, dan Henoteisme
- Dinamisme: Kepercayaan pada kekuatan suatu benda (azimat/jimat) yang dipandang mempunyai kekuatan keramat.
- Animisme: Kepercayaan bahwa suatu benda mempunyai roh (makhluk gaib) di dalamnya.
- Politeisme: Kepercayaan terhadap banyak dewa atau dewi, sebagai penyederhanaan dari animisme/dinamisme dengan mengelompokkan kekuatan menjadi koordinator dewa/dewi.
- Henoteisme: Paham bahwa setiap bangsa memiliki satu Tuhan sendiri, sebagai peningkatan dari politeisme. Satu kesatuan tidak mungkin diatur oleh lebih dari satu pengatur.
-
Monoteisme Paham bahwa hanya ada satu Tuhan yang menguasai dunia. Terbagi menjadi tiga:
- Deisme: Tuhan menciptakan alam dan hukum-hukumnya, lalu berpisah dengan alam (transcendent). Alam dapat berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Tuhan hanya pencipta, bukan pengatur. Dalam teologi Islam dikenal sebagai Qadariah.
- Panteisme: Tuhan ada bersama alam (immanent). Alam adalah bagian dari Tuhan. Tuhan ada di mana-mana. Dalam teologi Islam dikenal sebagai Jabariah.
- Eklektisme: Gabungan dari deisme dan panteisme. Manusia berperan sebagai perencana, sedangkan Tuhan sebagai penentu. Tuhan bukan alam, tetapi dekat dengan alam.
B. Pengertian Tuhan dalam Ajaran Islam
-
Allah sebagai Khalik (Pencipta)
- Allah adalah Zat Yang Wajib Adanya (Wajibul Wujud).
- Manusia dilarang memikirkan Zat Tuhan, melainkan memikirkan ciptaan-Nya.
-
QS Az-Zumar (39): 62-63: "Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia pemelihara segala sesuatu (62) Bagi-Nya perbendaharaan langit dan bumi. Dan orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah mereka itulah orang-orang yang jahil (63)."
-
QS Al-Baqarah (2): 255 (Ayat Kursi): Menjelaskan keesaan Allah, kemahahidupan, kemahaberdirian, kepemilikan langit dan bumi, serta ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
-
Sifat Allah (Al-Asma' Al-Husna)
- Allah memiliki 99 nama yang mulia (Al-Asma' Al-Husna) yang menggambarkan sifat-Nya yang sempurna.
- Penyembahan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah ajaran inti Islam.
- Sikap tauhid adalah meyakini bahwa Allah Esa dalam:
- Keesaan Zat: Allah tidak terdiri dari unsur atau bagian karena Dia tidak membutuhkan apapun.
- Keesaan Sifat: Sifat Allah tidak sama substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, meskipun kata yang digunakan sama.
- Keesaan Perbuatan: Segala sesuatu di alam raya adalah hasil perbuatan Allah. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.
- Keesaan dalam Beribadah: Perwujudan dari ketiga keesaan di atas, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
-
Ma'rifatullah melalui Pikir dan Zikir Mengenal Allah tidak dilakukan dengan mengetahui Zat-Nya, tetapi melalui sifat-sifat-Nya dan ciptaan-Nya.
- Melalui Pikir: Mengkaji alam semesta yang kokoh, rapi, dan harmonis menunjukkan kekuasaan dan ilmu Allah yang tinggi. Akal digunakan untuk memahami hukum-hukum alam.
- Melalui Zikir: Mengingat Allah dengan menyebut nama-nama-Nya (tahlil, tasbih, tahmid, takbir), membaca Al-Qur'an, berdoa, dan beribadah. Zikir menenangkan jiwa dan memantapkan iman.
- Ulil al-bab: Orang yang memiliki kesanggupan untuk berpikir dan berzikir secara menyatu.
-
Kekuasaan dan Perbuatan Allah
- Allah Maha Pencipta dan Maha Berkuasa atas ciptaan-Nya.
- Perbuatan Allah meliputi penciptaan, pengembangan, dan pemeliharaan, seringkali melalui tahapan atau "sunatullah".
- Contoh proses penciptaan manusia: dari sari pati tanah, nutfah, 'alaqah, mudghah, hingga menjadi janin yang sempurna.
- Alam semesta diciptakan dengan hak, menunjukkan ayat-ayat kebesaran Allah, segala peristiwanya diketahui dan disaksikan-Nya, berada di bawah kekuasaan-Nya, kokoh, teratur, pasti, harmonis, seimbang, bermanfaat, dan tidak dapat ditiru manusia.
Keimanan dan Ketakwaan
A. Keimanan
Iman berasal dari kata dasar "iman". Dalam Al-Qur'an, iman identik dengan asyaddu hubban lillah (kecintaan yang luar biasa kepada Allah). Hadis Nabi menyatakan:
"Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku."
- Kalbu (hati/akal): Potensi psikis untuk memahami informasi.
- Iqrar bil lisan (ucapan): Menyatakan dengan lisan atau tulisan.
- Amal bil arkan (perbuatan): Perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Iman yang negatif disebut kufur, pelakunya kafir. Iman positif adalah yang dirangkaikan dengan nilai-nilai kebenaran Allah.
B. Konsekuensi Keimanan
Ada beberapa sikap yang merupakan konsekuensi dari keimanan:
- Mawas Diri dan Bersikap Ilmiah: Kritis dalam menerima informasi, terutama nilai-nilai keislaman, untuk menghindari fitnah. Tidak menyatakan sikap sebelum memahami permasalahan.
-
QS Al-Isrā’ (17): 36: "Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya."
-
- Optimis dalam Menghadapi Masa Depan: Tidak mudah putus asa karena tantangan adalah pelajaran. Orang beriman harus optimis, bukan pesimis.
-
QS Yusuf (12): 87: "...janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir".
-
- Konsisten dan Menepati Janji: Menepati janji kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan adalah kewajiban seorang mukmin. Ingkar janji adalah pengkhianatan.
- Tidak Sombong: Sombong adalah sifat tercela. Ilmu pengetahuan yang luas seharusnya membuat seseorang rendah hati, bukan sombong.
-
QS Luqman (31): 18: "Dan janganlah engkau palingkan pipimu kepada manusia, dan janganlah berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi congkak."
-
C. Pembinaan Iman
Pembinaan iman berarti membina manusia seutuhnya agar imannya terbentuk dan berkembang.
- Proses Pembentukan Iman: Dimulai dari perkenalan, latihan pengamalan, hingga tumbuh rasa senang. Mengenal ajaran Allah (Al-Qur'an) adalah langkah awal.
- Pengaruh Lingkungan: Lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, dan alam memengaruhi keimanan. Orang tua berperan penting dalam menanamkan fitrah ilahiah (iman).
- Pentingnya Memahami Al-Qur'an: Mengenal ajaran Allah secara tepat dan benar melalui Al-Qur'an adalah pengantar untuk menjadi mukmin. Kekeliruan dalam memahami Al-Qur'an dapat berakibat fatal. Pembiasaan ajaran Allah sejak dini juga krusial.
D. Ketakwaan
Ketakwaan berasal dari kata taqwa. Iman dan takwa (IMTAQ) adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Pengertian Taqwa: "Mengikuti/memenuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya." (Imtitsaalua mauuroot wajtinaabul manhiyaat)
- Aplikasi Ketakwaan: Dibingkai dalam bentuk ibadah.
- Ibadah Mahdlah (Ritual): Bentuk, tata cara, syarat, dan rukunnya ditentukan oleh Allah dan Rasul (contoh: shalat, puasa).
- Ibadah Ghairu Mahdlah (Sosial): Perbuatan baik yang tidak ditentukan jenisnya, dilakukan dengan niat karena Allah (selama tidak dilarang).
- Ciri-ciri Orang Takwa (menurut Imam Qusairi): Tawaduk (rendah hati), Qona'ah (menerima takdir), Wara' (hati-hati), Yaqin (tawakal).
- Ciri-ciri Orang Takwa (menurut Abu Laits):
- Lidah sibuk berzikir, membaca Al-Qur'an, dan memperbincangkan ilmu.
- Hati bersih dari permusuhan dan dengki.
- Penglihatan tidak memandang yang haram, mengambil i'tibar dari dunia.
- Perut tidak dimasuki barang haram.
- Tangan tidak dipanjangkan ke arah yang haram.
- Telapak kaki tidak dipakai berjalan menuju maksiat.
- Ketaatan murni karena Allah.
- Dampak Ketakwaan: Diberi jalan keluar dari persoalan dan rezeki yang tidak disangka-sangka.
-
QS Ath-Thalaaq (65): 2-3: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
-
- Ketakwaan adalah kaidah yang terdiri dari perintah (amar) dan larangan (nahyi). Melaksanakan amar mendapat pahala (reward), melanggar nahyi mendapat siksa (punishment). Orang yang bertakwa disebut muttaqin.
Poin Penting
- Filsafat Ketuhanan manusia berevolusi dari Animisme/Dinamisme, Politeisme, Henoteisme, hingga Monoteisme.
- Monoteisme modern dibagi menjadi Deisme (Tuhan pencipta, bukan pengatur), Panteisme (Tuhan menyatu dengan alam), dan Eklektisme (Tuhan penentu, manusia perencana).
- Dalam Islam, Allah adalah Khalik (Pencipta) yang Esa dalam Zat, Sifat, Perbuatan, dan dalam beribadah kepada-Nya.
- Ma'rifatullah (mengenal Allah) dilakukan melalui pikir (mengkaji ciptaan-Nya) dan zikir (mengingat-Nya).
- Iman adalah keterpaduan antara kalbu (hati/akal), ucapan, dan perilaku, yang menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada Allah.
- Konsekuensi iman meliputi mawas diri, bersikap optimis, menepati janji, dan tidak sombong.
- Pembinaan iman membutuhkan pengenalan (terutama Al-Qur'an), pembiasaan, dan lingkungan yang positif.
- Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, menjadi tolok ukur kesempurnaan iman.
- Ciri-ciri orang bertakwa mencakup penggunaan lidah, hati, mata, perut, tangan, kaki secara benar, serta ketaatan murni kepada Allah.
- Iman dan takwa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam ajaran Islam; iman di kalbu, takwa dalam aplikasi.
Tes Formatif 1 — Kegiatan Belajar 1
1.Konsep ketuhanan menurut pemikiran manusia berkembang secara bertahap. Tahapan tersebut adalah ...
2.Kepercayaan kepada mukjizat seperti tongkat Nabi Musa menjadi ular, api menjadi es, dan lain-lain sejalan dengan paham ...
3.Konsep Ketuhanan monoteisme yang dikembangkan dalam pemikiran modern (Barat) adalah paham ...
4.Paham demokrasi tidak sejalan dengan monoteisme modern, kecuali ...
5.Konsep Ketuhanan dalam Islam yang sejalan dengan ajaran Islam adalah ...
6.Bertuhan atau tidaknya manusia dipandang dari ajaran Islam adalah ...
7.Di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang mengungkapkan tentang gejala-gejala alamiah, seperti, Ia menurunkan hujan dari langit. Dari bumi yang gersang, menumbuhkan aneka model tanaman. Di antara fungsi pengungkapan gejala-gejala alamiah adalah menyadarkan manusia agar ...
8.Di kalangan umat Islam terdapat dua mazhab (aliran) teologi yang berseberangan, yaitu ...
9.Salah satu usaha yang paling pokok dalam menumbuhkembangkan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia adalah ...
10.Di antara sikap yang tidak perlu dilakukan oleh umat Islam Indonesia, adalah mengajak umat Islam untuk ...
Tes Formatif 2 — Kegiatan Belajar 2
1.Iman diartikan sebagai suatu kepercayaan atau sikap batin. Pengertian ini tidak sesuai dengan ...
2.Ada dua kelompok manusia yaitu mukmin dan kafir. Orang yang kafir kepada Allah dalam konteks bangsa Indonesia adalah ...
3.Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Pernyataan tersebut mengandung konsekuensi bahwa bangsa Indonesia harus ...
4.Aspek pertama dalam iman menurut hadis nabi adalah kalbu. Pengertian kalbu yang sesuai dengan Al-Qur’an adalah ...
5.Salah satu sikap yang mencerminkan iman kepada Allah adalah ...
6.Prasyarat menjadi mukmin billah adalah memahami isi Al-Qur’an. Di antara alasan yang mendukung pernyataan tersebut adalah ...
7.Berikut ini merupakan salah satu strategi dalam rangka pembinaan iman kepada Allah adalah ...
8.Salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah adalah bertawakal kepada-Nya. Pengertian bertawakal kepada Allah dalam kaitannya dengan iman adalah ...
9.Beriman atau tidaknya seseorang kepada Allah ditentukan berdasarkan ketentuan atau kehendak Allah, maksudnya adalah untuk ...
10.Iman seseorang dapat bertambah dan berkurang. Untuk memperbarui iman seseorang langkahnya adalah ...